SUBANG — Di tengah lalu-lalang kendaraan dan aktivitas warga di Desa Tambakan, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, ternyata sedang tumbuh sebuah perubahan besar yang belum banyak diketahui publik.
Bukan gedung mewah. Bukan pula proyek bernilai fantastis. Namun sebuah langkah sederhana yang perlahan mulai mengubah wajah kawasan tersebut: pembangunan Kios Nanas untuk pedagang sekaligus penanaman bibit pohon teh di sekitarnya.
Sekilas, kawasan itu tampak seperti area biasa di pinggir jalan. Namun di baliknya, tersimpan gagasan yang jauh lebih besar tentang penataan ruang, ekonomi rakyat, dan pelestarian lingkungan.
KDM tampaknya memahami satu hal penting: pembangunan tidak selalu harus megah untuk bisa dirasakan manfaatnya. Kadang, perubahan justru dimulai dari tempat sederhana yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Kios-kios yang dibangun untuk pedagang kini menjadi simbol harapan baru bagi warga sekitar. Para pedagang yang sebelumnya berjualan seadanya perlahan mulai memiliki tempat yang lebih tertata dan nyaman. Di saat yang sama, kawasan di sekelilingnya juga mulai dihijaukan dengan bibit pohon teh.
Mungkin hari ini bibit-bibit itu masih kecil dan belum terlalu mencolok. Namun beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin kawasan tersebut berubah menjadi hamparan hijau yang menyejukkan mata. Sebuah pemandangan yang bisa menghadirkan suasana asri sekaligus daya tarik baru bagi Jalancagak.
Yang menarik, langkah ini bukan sekadar soal estetika atau penghijauan semata. Ada pesan besar di baliknya: bagaimana pembangunan bisa berjalan berdampingan dengan alam tanpa harus saling merusak.
Di tengah banyaknya pembangunan yang sering mengorbankan ruang hijau, konsep seperti ini justru terasa berbeda. Pedagang diberi ruang untuk tumbuh, lingkungan tetap dijaga, dan kawasan pun menjadi lebih tertata.
