Subang Cybernasa - Di Tatar Sunda, “ngaruat bumi” yang merupakan bagian dari kearifan lokal untuk merawat dan menjaga kelestarian 
alam,ini terlihat semakin tenggelam di beberapa daerah. Perubahan gaya hidup yang lebih individualistik dan dampak modernisasi serta globalisasi disebut‑sebut menjadi faktor utama lunturnya semangat gotong‑royong dan kepedulian terhadap lingkungan ini. 

Masyarakat Sunda yang dulu mengedepankan “silih asah, silih asih, silih asuh” 
dan tradisi seperti ngabeungkat atau mapag sri sebagai wujud penghormatan pada alam, kini menghadapi tantangan karena nilai‑nilai tersebut kian tergerus oleh orientasi hidup yang lebih materialistik dan konsumtif.
Halaman:
C
Penulis: Cyber Nasa
× Preview Gambar