Subang Cybernasa - Bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa adalah rumah identitas. Ketika kelompok kerja kepala sekolah (K3S ) Kecamatan Tanjungsiang menyelenggarakan  Festival Tunas Bahasa Ibu dengan tema "Borangan - Ngabodor Sorangan" pada Rabu, 9 September 2026, maka sesungguhnya kita sedang merawat rumah itu agar tidak roboh digilas zaman.

Kemenangan Sdr. Al-Ghifari Hidayat Al Path dari SDN Buniara bukan sekadar juara 1. Ia adalah bukti empiris bahwa anak desa mampu mengubah "rasa sepi saat tidak dijenguk orang tua saat kemah pramuka" menjadi narasi yang menguatkan ribuan teman sebayanya. Ini adalah pendidikan karakter yang tidak bisa diukur dengan rapor.

 Revitalisasi Bahasa Sunda sebagai Bahasa Ibu

Tema "Ngabodor Sorangan" memaksa anak berpikir, merasakan, dan mengekspresikan diri dalam Bahasa Sunda. Padahal ancaman utama saat ini adalah  language shift  anak lebih fasih bahasa gaul dan bahasa asing daripada bahasa ibu sendiri. 

FTBI menjawab amanat Gubernur Jabar dan Permendikbud No. 50/2020 tentang Revitalisasi Bahasa Daerah. Bahasa Sunda yang "dibawa pulang" dari panggung ke kelas akan menjadi vaksin budaya bagi SDN Buniara dan sekolah lain di Tanjungsiang.

Kedua: Pendidikan Literasi Emosional melalui Seni Bertutur

Yang diceritakan Al-Ghifari adalah pengalaman pribadi yang rawan: "tidak dijenguk orang tua saat kemah". Dalam psikologi anak, ini disebut _attachment experience_. 

Namun lewat "ngabodor" ia tidak mengeluh. Ia mentransformasi luka menjadi motivasi. Ini adalah 2 kompetensi abad 21 sekaligus: 

Literasi mampu menyusun struktur cerita, diksi, dan mimik